Mary Bryant dari Inggris sampai di Koepang-Timor Barat tahun 1791.

(Diangkat dari The True story of Mary Bryant)

Mary Bryant
Romola Garai in movie the Incredible Journey of Mary Bryant
Mary Braund

Mary Braund (lahir di Inggris tahun 1765) dia dibaptis pada tanggal 1 Mei 1765 di Fowey, Cornwall, Inggris, putri seorang pelaut bernama Broad, yang keluarganya 'terkenal karena sering mencuri domba'. Kisah ini diawali ketika Mary Braund masih berusia 17 tahun, pada masa tersebut di Inggris terjadi kelaparan di-mana mana, sehingga Mary bertumbuh menjadi wanita yang agak liar dan mencari makan dengan cara-cara yang melawan hukum ( mencuri ataupun merampok). Suatu waktu di area hutan setempat, Mary 'menjebak' seorang wanita "berpunya" dengan cara dia berpura-pura pingsan, ketika wanita tersebut hendak menolong dia, Mary pun bangun dan merampas makanan dan tas milik perempuan tersebut serta melarikan diri, sayangnya wanita tersebut datang dengan dua saudara laki-lakinya yang langsung mengejar dan menangkap Mary, Marypun diserahkan kepada polisi dan kemudian dia diajukan ke Pengadilan setempat. Pada tanggal 20 Mei 1786 di Exeter Assizes , Mary didakwa dengan tuduhan melakukan penyerangan dan perampokan, dan kemudian oleh Pengadilan Mary dihukum dan dijatuhi hukuman mati ( hukuman gantung). Akan tetapi dalam perjalanan pihak Pengadilan merubah hukuman atas Mary menjadi hukuman transportasi (mengikuti dan bekerja sebagai budak dalam suatu pelayaran) selama tujuh tahun, maka dia dibawa dari penjara Exeter ke penjara Dunkirk di lepas pantai Plymouth, di mana dia tinggal sampai dipindahkan untuk ikut "kapal Charlotte" pada Armada Pertama untuk berangkat menuju Botany Bay ( New South Wales-Australia Selatan).

Pembuangan ke Benua Australia 

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada tahun 1787, Raja George ke-III mengeluarkan perintah untuk memindahkan para Narapidana hukuman mati/hukuman berat dari Inggris ke Australia.  Mary Braund (ketika itu berusia 22 tahun) termasuk dalam rombongan pertama yang dikirim ke benua Australia, dimana dalam rombongan pertama tersebut terdapat 100 orang Narapidana dengan hukuman berat yang diberangkatkan menuju New South Wales Australia dengan menggunakan Kapal Charlotte, Mary dengan para narapidana tinggal di penjara yang berada di dek bawah kapal, dimana dipisahkan antara penjara wanita dan laki-lakinya. 
Dalam perjalanan panjang dan lama menuju Australia tersebut, Mary sempat 'berhubungan' dengan komandan pasukan pengawal dalam kapal tersebut yakni Letnan Clarke, dan Mary diajak tinggal sekamar dengan Clarke di cabin miliknya. Namun perjalanan percintaan mereka putus ditengah jalan karena Clark mengetahui bahwa Mary sudah mengandung, Clarke benar-benar marah dan kecewa dengan mengandungnya wanita yang dia cintai yakni Mary, kemudian sebagai pemuncak dari kekecewaannya dan marahnya kepada Mary, Clarke memerintahkan mencambuk teman dekat Mary, Elizabeth, karena Elizabeth membongkar kebiasaan (aib) dari pimpinan di kapal yang mengajak narapidana wanita untuk tinggal dan menjadi teman tidur di kabin milik mereka, teman Mary tersebutpun dihukum cambuk oleh letnan Clarke karena Clarke merasa 'malu'. Mendengar hal ini, Marypun sangat marah kepada Clarke, sehingga Mary mengambil keputusan untuk 'putus hubungan' dengan Letnan Clarke dan kembali ke penjara kapal, bergabung teman2 narapidana lainnya. Mary yang ternyata saat itu sedang mengandung besar (tanpa diketahui siapa ayahnya) akhirnya melahirkan anak perempuan pada bulan Mei 1787 yang dia namakan Charlotte (sesuai dengan nama kapal yang mereka tumpangi), Letnan Clarke sang komandan pasukan merasa sangat kecewa dengan Mary, dia bahkan menuduh Mary telah berselingkuh dibelakangnya, hal ini menimbulkan dendam kesumat yang mendalam dan berkepanjangan dari Clarke terhadap Mary Braund serta kekasihnya William Bryant ( dan ini akan nampak pada kehidupan Mary dan William selanjutnya), namun dibalik semua Letnan Clarke sebenarnya diam-diam masih mencintai dan dia masih mengharapkan Mary kembali menjadi kekasihnya. 
Mary tetap tabah memelihara anaknya Charlotte yang didukung seorang pemuda yang diam diam juga jatuh cinta dengan Mary, pemuda narapidana tersebut adalah William Bryant. Selama dalam perjalanan dengan kapal Charlotte, Mary senantiasa berpenampilan sebagai 'seorang gadis yang baik', kemudian putrinya Charlotte Spence pun dibaptis pada bulan Oktober 1787 di Cape Town-Afrika Selatan. 
Setibanya di teluk Sydney (New South Wales-Australia) pada 10 Februari 1788 Mary menikah dengan William Bryant,  dan sejak menikah, maka saat itu nama Mary Braund berubah sebagai "Mary Bryant"
Willy adalah seorang nelayan Cornish yang berusia sekitar 31 tahun, yang telah dihukum pada Maret 1784 di Launceston Assizes karena menolak petugas untuk membayar pajak pendapatan. Dia dihukum menjalani transportasi laut selama tujuh tahun dengan tujuan ke Amerika, tapi kemudian tujuannya diubah dan dia juga melewati penjara Exeter dan Dunkirk, dan bergabung dengan kapal Charlotte (sekapal dengan Mary), di mana dia dipekerjakan sebagai koki kapal Charlotte dengan tugas menyiapkan makanan bagi sesama tahanan.

Penemuan Benua Austalia dan statusnya

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa benua Australia ditemukan oleh Sir James Cook dari Inggris pada tahun 1770,dan sejak itu Inggris mengclaim bahwa benua Australia adalah 'Jajahannya' dan untuk itu Pemerintah Inggris pada era Raja George ke-III mulai menempatkan orang-orangnya disana, serta oleh Inggris benua Australia juga ditetapkan sebagai tempat pembuangan/penjara bagi para narapidana dengan hukuman berat,hukuman mati atau narapidana seumur hidup Inggris. Disini pulalah William Bryant beserta istrinya Mary serta para narapidana kategori berat dibuang dari Inggris, bahkan mereka termasuk penduduk Australia asal Inggris yang tinggal mula-mula di Australia Selatan (di New South Wales).

Kehidupan di Benua Australia.

Ketika mereka sampai di Port Jackson ( Australia Selatan), para narapidana dari Inggris langsung membuat koloni tersendiri, mereka mulai mengelola lahan yang ada terutama mengelola perikanan laut yang mempunyai potensi cukup besar untuk dikelola, tetapi selain itu timbul beberapa tantangan seperti adanya gangguan dan penyerangan dari para penduduk asli (suku Aborigin), maupun terjadinya pelecehan seksual yang dialami oleh para narapidana wanita oleh para narapidana pria. 
William Bryant setelah menikah dengan Mary dan membentuk rumah tangga, mereka  mulai membangun tempat tinggal (sebuah gubuk) dan mereka memulai mengelola sebuah perkebunan serta menjadi nelayan. Selain menghidupi keluarganya, William juga diberi tanggung jawab oleh pemerintah terhadap pengelolaan atas operasional kapal penangkap ikan milik pemerintah, akan tetapi pada Februari 1789 William dihukum karena menjual sebahagian hasil penangkapan ikan untuk kepentingan pribadi sehingga dia dijatuhi hukuman 100 kali cambukan. Kewenangannya kendali atas pengelolaan penangkapan ikan dicopot, meskipun sebenarnya dia adalah nelayan yang terampil, dia ditahan di perahu penangkapan ikan. Pada bulan April 1790 anak kedua Mary, Emanuel, lahir dan dibaptis.
Kehidupan para Narapidana Inggris di Port Jackson ternyata benar-benar sengsara dan menyedihkan, banyak dari mereka dan anak-anaknya yang meninggal dunia akibat kelaparan serta terserang penyakit menular, sehingga hal ini membuat Mary bertekad untuk "melarikan diri" dari Australia kembali ke Inggris, karena dia tidak ingin kedua anaknya akan mengalami hal yang sama meninggal disana. Maka untuk merealisasikan rencana pelarian tersebut Mary mulai membuat perencanaan yang matang, bagaimana mengumpulkan bahan makanan, minuman, serta mendapatkan peralatan pelayaran yang dibutuhkan, peta untuk mencapai Timor bahkan kapan waktu pelaksanaan pelarianpun diatur oleh Mary, dan dia pula yang membagi tugas kepada teman-teman narapidana yang akan bersama-sama melakukan pelarian, seluruh langkah persiapan sampai pelaksanaan pelarian diatur Mary yang didukung oleh suaminya. 
Pada bulan Oktober 1790 tiba di Port Jackson sebuah kapal pengangkut salju Belanda yakni Kapal Waaksamheyd yang mengangkut perbekalan makanan yang sangat dibutuhkan oleh penduduk Port Jackson, kapal ini dinahkodai oleh Kapten Detmer Smith (Smith). Dari kapten kapal Smith lah William Bryant memperoleh bagan, kompas, kuadran, dua senapan, amunisi, dan makanan. 
William dan Mary beserta beberapa teman narapidananya semakin memantapkan rencana pelarian untuk kembali ke Inggris melalui Timor, karena mereka tau bahwa di Koepang-Timor ada VOC Belanda, sehingga mereka berharap nantinya pimpinan VOC Belanda (Opperhoofd) di Koepang akan dapat membantu mereka untuk kembali ke Inggris, akan tetapi tindak tanduk dari Mary dan suaminya maupun teman-temannya selalu diawasi dengan ketat oleh tentara marinir Inggris anak buahnya Letnan Clarke. Mary mencari jalan keluar guna dapat merealisasikan pelarian yang (sudah) direncanakan dengan matang bersama sang suami dan beberapa teman narapidananya tersebut, Mary pula yang mengatur pencurian bahan makanan dari gudang pemerintah untuk bekal dalam pelarian tersebut, selain itu Mary kembali melakukan pendekatan kepada Letnan Clarke (tentunya sudah melalui persetujuan dari suaminya), Clarke yang memang masih mencintai Mary tanpa curiga menerima Mary dengan senang hati, karena cintanya yang kembali bersemi kepada Mary membuat Clarke mulai terbuai dan lengah, sehingga pengawasan terhadap Mary dan keluarganya menjadi longgar. Hal inilah yang diharapkan oleh Mary, ketika Clarke lengah, maka pelaksanaan persiapan untuk pelarian pun berjalan semakin baik dan lancar sesuai harapan mereka. 

PeLarian ke Koepang-Timor 

Pada bulan Februari 1791, badai menerpa Port Jackson dan hampir menghancurkan perahu-perahu ikan milik pemerintah yang ada disana, William Bryanpun melakukan perbaikkan secara menyeluruh terhadap perahu yang menjadi tanggung jawabnya tersebut sebagai persiapan untuk melarikan diri (Perahu milik pemerintah tersebut yang akan dicuri guna membawa mereka melarikan diri). 
Pada tanggal 28 Maret 1791 (enam hari setelah Pasokan makanan dikirim ke Pulau Norfolk, sebuah pulau kecil diantara Benua Australia dan Selandia Baru), ketika kapal Waaksamheyd berlayar kembali ke Inggris, malam itu juga pelarian dilaksanakan (tanpa ada kapal lain di Port Jackson untuk bisa menyusul mereka, dan tidak ada bulan yang menerangi langit South Head), para tentara marinir anak buah Clarke pun lengah dalam pengawasan, Marypun mulai melaksanakan aksinya untuk membuat letnan Clarke terbuai cinta dan tidur bersamanya.  Setelah 'tidur' dengan Mary, Clarkepun tertidur pulas, ketika dia terbangun Mary tidak ada disampingnya lagi, Clarke curiga, dia panggil anak buahnya segera melakukan pemeriksaan di pelabuhan, benar saja ketika itu para narapidana sudah berada didalam perahu "curian" dan bersiap untuk  segera berlayar, mereka terlambat, tetapi ada seorang narapidana tertembak dan ditangkap, sedangkan yang lainnya berhasil lolos dan memulai perjalanan pelarian yang 'impossible' dari Sydney menuju Kupang-Timor. 

Bryant, Mary dan kedua anaknya serta lima narapidana lainnya 'berhasil' melarikan diri dari New South Wales Australia menggunakan perahu layar terbuka dengan tiang, layar, dan dayung baru serta persediaan perbekalan yang cukup dengan tujuan ke Koepang-Timor, mereka mulai mendayung perahunya menyusuri Lautan Pasifik Selatan, meskipun ada salah satu buronan yang bersamanya adalah seorang navigator dan yang lainnya pelaut yang mahir menangani kapal, namun pelayaran tersebut adalah pelayaran yang cukup berat karena mereka harus mendayung perahu melewati lautan yang cukup ganas dan berombak besar ( open boat voyage ), beberapa kali perahu mereka terombang-ambing dihempas badai dan gelombang tinggi, disamping itu mereka sempat kehabisan perbekalan air minum sehingga mereka menggantungkan diri kepada air hujan, makananpun semakin menipis, tenaga sudah sangat terkuras, dan yang paling merasakan adalah kedua anak dari Mary yang masih kecil. 
Hampir saja para narapidana tersebut menyerah karena tenaga sudah sangat terkuras disertai oleh kelelahan yang amat sangat, akan tetapi Mary terus menguatkan dan memacu semangat mereka untuk terus mendayung guna mencapai sebuah 'kemerdekaan', menyerah berarti mereka akan ditangkap dan mati ditiang gantungan, apabila meneruskan pelarian maka masih ada secercah harapan untuk mendapat kemerdekaan. 
Dengan adanya penguatan dari Mary, maka dengan berbekal sisa-sisa tenaga yang ada mereka akhirnya memutuskan untuk tetap mendayung perahu tersebut melintasi Samudera Pasifik Selatan menuju ke Timor, mereka sempat beberapa kali singgah di beberapa pulau di Australia untuk beristirahat, mencari makanan serta air minum, mereka pernah  hampir dibunuh oleh penduduk asli Australia (Aborigin) disebuah persinggahan,  salah seorang teman mereka (William Allen) terkena tombak di-paha tetapi beruntung mereka dapat meloloskan diri naik ke perahu dan melanjutkan pelarian. 
Sementara itu tanpa disadari, ternyata Letnan Clarke beserta anak buahnya juga terus melakukan pengejaran. 
Letnan Clarke dan anak buahnya sempat hampir menangkap para narapidana yang melarikan diri tersebut di sebuah pulau di Queensland Australia Timur, bahkan disitu salah seorang narapidana (Sam) tertangkap oleh marinir anak buah Clarke, kemudian Sam dihukum mati diatas tiang gantungan. Sedangkan teman mereka yang terkena tombak suku Aborigin (William Allen) akhirnya meninggal dunia diatas perahu dalam perjalanan ke Koepang.
Sisa para narapidana ( Mary, Willy, kedua anak mereka serta 3 orang teman narapidana) yang masih hidup langsung melarikan diri dengan perahunya menuju Timor, sehingga Letnan Clarke memutuskan untuk menyusul mengejarnya ke Koepang-Timor Barat.

Mendarat di Koepang-Timor 

Perjalanan ini benar benar adalah sebuah perjalanan yang berbahaya dam menyengsarakan, terkadang karena kelelahan merekapun tertidur serta membiarkan perahu terayun-ayun oleh ombak, atau disaat layar terkembang maka perahupun melaju sendiri ditiup angin, hanya Mary yang tetap terjaga serta mengarahkan kemudi perahu menuju Timor. Setelah beristirahat mereka mulai kembali mendayung perahu tersebut, William dan kawan2 terus berjuang mati-matian sehingga akhirnya mereka bertujuh dapat mendarat dengan selamat di Koepang-Timor Indonesia pada tanggal 5 Juni 1791, setelah melakukan perjalanan sejauh 3254 mil (5.237 km) dalam waktu 69 hari ( dua bulan lebih) melalui suatu perjalanan pelarian yang 'gagah berani dan sangat-sangat luar biasa'. Bahkan dalam perjalanan tersebut mereka juga menemukan sumber-sumber batu bara di Australia (mungkin di dekat Newcastle di New South Wales-Australia), mereka juga  menemukan banyak pulau di Barrier Reef di Queensland East-Australia. 
Mereka berlayar mengarungi Samudera Pasifik Selatan dan Laut Arafura yang terkenal sangat ganas gelombangnya apalagi pelayaran tersebut terjadi di musim-musim angin timur. 

Ditangkap di Koepang-Timor dan dikirim ke Batavia

Di Koepang, Bryant sekeluarga dan kawan-kawan 'menyamar' sebagai orang orang yang selamat dari kecelakaan di pantai Australia, mereka bertemu dan bahkan mereka menjadi tamu dari pimpinan VOC Belanda (Opperhoofd) di Koepang, mereka memperkenalkan diri sebagai John Parker dan istri Elizabeth Parker, mereka diberikan kamar dan dilayani sebagai tamu dari pimpinan VOC Belanda serta tinggal di komplex benteng Concordia-Kupang, Willy dan Mary dan kedua anaknya serta teman-temannya benar-benar gembira dan senang, karena di Kupang mereka benar-benar menjadi "orang bebas" .
Pada tanggal 17 September 1791 Kapten kapal Frigate Inggris HMS Pandora yakni Kapten Edward  tiba di Koepang dengan awaknya yang 'selamat' dari Kapal HMS Pandora yang hancur dihantam badai beserta dengan para tahanan pemberontak kapal Bounty (Kapal Frigate HMS Pandora yang dipimpin oleh Kapten Edward adalah Kapal yang dikirim kerajaan Inggris untuk menjemput dan menangkap para pemberontak terhadap Kapal Bounty pimpinan kapten William Bligh ditahun 1789 di laut Tonga-Hawai)  

( cek cerita tentang pemberontakkan diatas kapal HMS. Bounty di link : https://nickywritehistory.wordpress.com/2021/02/06/laksamana-madya-sir-william-bligh/). 

Kapten Edward menanyakan tentang para buronan yang 'kabur' dari Botany Bay yang saat itu diperkirakan sudah berada di Kupang, ketika Kapten Edward akhirnya dapat bertemu dengan para narapidana yang melarikan diri dari Botany Bay tersebut dan 'menginterogasi mereka', Kapten Edward sudah mencurigai bahwa para tamu VOC Belanda tersebut adalah para narapidana yang melarikan diri dari New South Wales Australia, tetapi dia tidak bisa ber-lama-lama untuk menggali siapa mereka sebenarnya, karena pada tanggal 5 Oktober 1791 kapten Edward telah bersiap-siap  untuk berlayar menuju Rembang-Jawa Tengah.  
Letnan Clarke dengan anak buahnya yang kemudian juga mendarat di Koepang dalam rangka mengejar para narapidana tersebut segera bertemu dengan Openhofd Belanda di benteng Concordia-Koepang, Letnan Clarke menanyakan perihal keberadaan mereka kepada Opperhoofd, jawaban Opperhoofd VOC Belanda membuat Letnan Clarke semakin yakin bahwa para narapidana yang melarikan diri tersebut telah berada di Koepang, dia pun mulai melakukan pencarian terhadap William Bryant dan kawan2nya, akhirnya dia menemukan mereka dan dari pengejaran tersebut tiga orang narapidana tertembak oleh anak buah letnan Clarke masing-masing adalah William Bryant dan salah satu temannya (meninggal dunia) dan salah seorang teman narapidana lainnya dilumpuhkan dengan tembakan di-pahanya, William Bryant dan temannya yang meninggal dunia diperkirakan dikubur di Kuburan Nunhila disamping Benteng Concordia.  
Pada bulan November 1791 para pelarian narapidana yang masih hidup tersebut ditangkap dan dikirim ke Batavia ( Jakarta ) dengan dikawal ketat oleh Letnan Clarke dan anak buahnya, untuk selanjutnya akan diberangkatkan ke Inggris.

Kembali ke Inggris
 
Mary, dgn anak-anaknya Charlotte dan Emanuel, berangkat menuju Inggris dari Batavia mendahului 2 (dua) teman narapidana lainnya, tetapi kemudian di Semenanjung laut, Mary, Emanuel Bryant dan Charlotte kemudian bergabung dengan dua narapidana temannya yang masih hidup di kapal Gorgon untuk melanjutkan perjalanan ke Inggris, dalam perjalanan 9 bulan ke Inggris dua orang anaknya Charlotte dan Emanuel Bryant meninggal dunia diatas kapal dalam perjalanan ke Inggris karena sakit malaria dan kedua anaknya dikuburkan di laut, sehingga tersisa 3 ( tiga ) orang Narapidana yakni Mary Bryant dan 2 (dua) orang temannya yang masih hidup sampai mendarat di Inggris pada tanggal 18 Juni 1792.

Diadili dan bebas.

Setibanya di Inggris, dalam persidangan pengadilan di London pada tanggal 7 Juli 1792, Mary yang karismatik bersaksi berapi-api serta sangat menyentuh hati para pendengarnya, hal ini mendapatkan simpati serta dukungan dari pers setempat maupun dari publik Inggris yang hadir dalam persidangan tersebut, terlebih-lebih ketika dia bersaksi dan menceritakan kembali kisahnya ketika 'mencari keadilan' melalui pelariannya menuju Inggris dari Australia melalui Koepang-Timor, di mana dalam pelarian tersebut dia kehilangan seluruh keluarganya yang dia kasihi. 
Akhirnya Pengadilan memutuskan untuk "membebaskan" Mary dan kedua temannya (John Butcher dan Martin) sebagai penghargaan atas kejujuran mereka, dengan keyakinan bahwa mereka telah mendapatkan pelajaran yang berharga dari pengalaman mereka sebagai Narapidana di Australia. Mary Bryant mengambil keputusan untuk kembali ke kampung halamannya pada bulan Mei 1793 untuk bergabung dengan keluarga besarnya di Fowey- Cornwall (Sejak itu tidak ada kabar lagi tentang Mary Bryant). 
Adapun Letnan Clarke sang pemimpin pasukan pengawal, dia tinggalkan di London untuk memikul beban mental bertanggung jawab atas kematian Will, Charlotte, dan Emmanuel. 
 
Kisah perjalanan hidup yang luar biasa dari Mary Bryant dan keluarganya adalah kisah tentang usaha pelarian melalui laut yang sangat panjang serta beresiko tinggi dengan hanya menggunakan sebuah Perahu terbuka dari Botany Bay Australia Selatan sampai dengan Koepang Timor, dan Mary sekeluarga serta teman-temannya mampu selamat serta tiba kembali di Inggris. 
Pelarian ini oleh rakyat Inggris dianggap sebagai suatu pelarian yang hebat dan mengagumkan dalam sepanjang sejarah penyelamatan diri yang pernah dilakukan oleh seorang wanita, dimana perjalanan penyelamatan diri ini "sebanding" dengan penyelamatan diri yang dilakukan oleh Kapten Kapal Inggris HMS Bounty Sir William Bligh dan anak buahnya dari kepulauan Tonga sampai ke Koepang-Timor dua tahun sebelumnya (tahun 1789). 
Oleh sebab itu Dr. Johnson memandang perlu mengangkat dan menulisnya sebagai "Autobiografi of Mary Bryant", dan dari autobiografinya kemudian dibuatkan film mini seri televisi di Australia dengan judul film "The Incredible Journey of Mary Bryant" dibintangi oleh Romola Garai, Jack Davenport, Alex O'loughlin, dengan biaya AS 15 Million ( merupakan biaya terbesar yang pernah dianggarkan untuk pembuatan film mini seri di Australia ). 

Sumber data dan foto : Wikipedia Mary Bryant, serta Movie " the Incredible Journey of Mary Bryant" 

Catatan : Ada perbedaan data antara dalam cerita pada 'Wikipedia Mary Bryant' dengan cerita yang ada pada film 'The Incredible Journey of Mary Bryant'

NNU 










(Diangkat dari the true Story of Mary Bryant)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: